Jumat, 19 Desember 2008

RATRI

Oleh: Septi 'Sanggar Anak Kampung Indonesia'

Aku anak ke 9 dari 12 bersaudara, tepatnya aku punya adik 8 dan kakak 3, aku sekolah hanya sampai kelas 3 smp, aku tidak malu dengan keadaan orang tua q yang yang bekarja sebagai
buruh, karna itu pekarjaan yang halal. Aku tinggal di bantaran sungai yang amat kumuh, disana aku, adik-adik q dan kakak q serta kedua orang tua q tinggal. Pagi itu awal aku mulai masuk sebagai siswa kelas 1 smp, dismp aku dikenal sebagai anak yang pendiam aku ga pengen berbuat aneh-aneh disekolah karena aku sadar kalau aku berbuat aneh-aneh aku akan melukai hati kedua orang tua q. walaupun aku pendiam aku tetap punya sahabat yang rumahnya juga tidak jauh dari rumah q, dy seta, seta sahabat baik q dari aku masih duduk dibangku SD, kami selalu
bersama. Disekolah kami selalu akrab walaupun banyak teman yang tidak suka karena kami hanya anak seorang buruh di pasar, kami bukan anak orang kaya yang selalu menghamburkan uang orang tua. Aku belajar dengan sungguh-sungguh karna aku punya cita-cita, aku ingin membahagiakan kedua orang tua q aku ingin mendapat kehidupan yang layak, aku ingin adik-adik q kelak bisa mencicipi bangku sekolah yang lebih tinggi dari aku. Setiap pulang sekolah aku pulang kerumah aku membantu ibu q yang sibuk mengurusi ke 8 adik-adik q. Kakak pertama dan yang ke dua ikut membantu bapak q yang bekerja sebagai buruh di pasar, mereka semua juga seperti q hanya bisa sekolah sampai tamat smp , karna tidak ada biaya mereka memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah mereka, walaupun mereka ingin sekali meneruskan pendidikannya untuk yang lebih tinggi,mereka sadar akan kekurangan yang sedang orang tua kita hadapi, mereka lebih memilih untuk membantu ayah bekerja di pasar, kakak q ratna membantu ibu jualan gorengan yang setiap pagi ia jual keliling, walaupun hanya sedikit tapi itu juga sudah membantu ayah dan ibu, siangnya setelah selesai berjualan gorengan mba ratna melanjutkan kerja di pasar tepatnya dikios pakaian, disana mba ratna bekerja untuk membantu meringankan beban bapak dan ibu untuk biaya sekolah aku dan ke-4 adik2 q. Mas dono dan mas rinto juga ikut membantu membiayai sekolah dan kebutuhan kami semua, karna
bapak q juga sudah tidak mampu untuk kerja terlalu lama karna fisik bapak yang sudah renta jadi mas dono dan mas rinto membantu bapak di pasar, kami semua hanya mampu kerja dipasar karna mas dan mba q tidak memiliki ijazah untuk melamar pekerjaan di kantor-kantor besar. Diusia q yang baru genap 12 tahun ini aku sudah merasakan betapa beratnya beban yang ditanggu kedua orang tua q. Sebenarnya aku ingin membantu orang tua q namun aku tetap disuruh untuk melanjutkan sekolah karna aku mendapat bantuan dari pemerintah untuk melanjutkan sekolah sampai smp, aku tidak mau mengecewakan kedua orang tua q. Setiap pulang sekolah aku dan adik-adik q belajar kembali untuk mengulang apa yang sudah
diajarkan bapak dan ibu guru kita disekolah, aku sebagai kaka mereka aku juga membantu mereka untuk menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan oleh bapak dan ibu guru mereka disekolah. Mereka sudah sadar betul dengan tugas-tugas mereka setelah sampai dirumah, mereka bersih-bersih badan dan membantu ibu sebentar lalu belajar, mereka biasa main setelah mereka selesai mengerjakan tuigas sekolah mereka yang di kerjakan dirumah,setelah selesai mereka baru main dengan teman-teman yang tinggalnya berdekatan dengan rumah q. Aku pun juga demikian aku selalu belajar bersama dengan seta kalau sudah selesai mengajari
adik-adik q, Seta teman yang baik dia selalu membantu q jika aku menemukan kesulitan dalam belajar. Setelah belajar aku dan Seta istirahat sebentar untuk shalat dzuhur bersama, lalu setelah itu Seta pulang, dan aku membantu ibu didapur, ibu masih sibuk menggoreng gorengan untuk dijual keliling, kalau sore yang tugas jual gorengan aku bukan mba ratna lagi, aku biasa jual jam 15:00 sore namun sebelum aku jualan aku shalat ashar terlebih dahulu dengan ibu dan
adik-adik q aku biasa jualan sampai jam 17:00, karna jam 17:00 bapa, mba ratna , mas dono dan mas rinto sudah pulang keruamh, aku dan ibu bisanya langsung menyiapkan makanan untuk kita semua yaa walaupun hanya makan makanan yang seadanya, kami semua tidak pernah mengeluh kepada kedua orang tua kita, kita makan selalu berbagi dengan semuanya agar semua anggota keluarga bisa makan. Biasanya kami shalat terlebih dahulu sebelum makan bersama, walaupun aku punya adik dan kakak banyak tapi kami semua berusaha untuk selalu shalat dan makan bersama, setelah makan kita baru kumpul2 bersama dengan semua ada bapak, ibu,
kakak dan adik-adik q, kita ngobrol tentang kegiatan yang sedah seharian kita kerjakan, kita bercanda, dan setelah itu kita semua baru kembali ke mushala lagi untuk shalat isya’ berjamaah di mushala, dimushala juga banyak keluarga-keluarga yang juga shalat disana, dimushala aku juga biasa ketemu dengan Seta, dia bersama bapak dan ibunya juga shalat berjamaah di mushala. Kami semua selalu hidup rukun dengan tetangga yang juga hidup di bantaran sungai yaa walaupun kami hanya hidup di bantaran sungai kami tetap bisa merasakan kegembiraan dan kebahagiaan hidup secara sederhana, kami bisa lebih memanfaatkan waktu dan berhemat untuk bisa mncukupi seluruh kebutuhan. Diusiaku yang baru genap 12 tahun ini aku menjadi bisa lebih banyak belajar tentang kehidupan yang seperti ini yang serba kekurangan, namun aku tetap belajar, berusaha dan berdoa untuk kedepannya kita semua bisa terangkat dari kemiskinan yang sedang kita semua alami.Dan aku sangat bersyukur karena aku hidup dikeluarga yang benar-benar bisa saling mengerti antara aku adik dan kakak-kakak q, dan aku memiliki orang tua yang begitu sabar dan selalu berusaha untuk anak-anaknya agar mendapat kehidupan yang bisa mncukupi kebutuhan mereka, walaupun kami hanya bisa sekolah sampai SMP tapi aku, adik-adik q dan kakak-kakak q bangga memiliki orang tua seperti orang
tua q, aku hanya ingin suatu sat kelak setelah aku bisa lulus SMP aku masih ingin bisa melanjutka sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi, ke SMA dan kuliah, namun aku ingin semia itu tidak menjadi tanggungan kedua orang tua q, walaupun hanya bea siswa yang hanya aku andalkan, namun aku juga akan berusaha lebih keras untuk mendapatkan bea siswa itu untuk aku bisa melanjutkan sekolah dan mengejar cita-cita q..
Semua itu hanya untuk bapa ibu, kakak, dan adik-adik q…

Sabtu, 06 Desember 2008

Budaya yang hilang

Salam buat semua yang baca tentang blog SAKI ( Sanggar Anak Kampung Indonesia)....

SAKI, terbentuk nya SAKI ini adalah karna adanya minat dan kemauan yang tinggi dari temen2 muda-mudi kampung yang dekat dengan sungai Code, mereka ingin mendapat kehidupan yang lebih baik untuk generasi penerus yang ada di kamung ini, seperti taun2 belakangan ini banyak sekali remaja yang telah meninggalkan bahkan lupa dengan budaya/ seni yang ada di Jogjakarta, kita ambil contoh gampangnya aja, anak2 jaman sekarang lebih suka main dengan tekhnologi yang taun belakangan ini sangat meledak dengan pengeluaran-pengeluaran terbaru, seperti handphone,internet, playstation, dan sebagainya, yaa kami juga ga munafik klo semua itu kami butuhkan tapi setidaknya harus balanced dengan budaya atau permainan jawa yang sudah ada.
Kami sebagai remaja yang juga sudah pernah merasakan permainan-permaina kuno yang sekarang sudah sangat sedikit peminatnya, padahal permainan-permainan kuno itu sanggat mengasyikan,seru dan itu ada nilai budayanya, permaina itu sebagai contoh permaianan Daqon(bantumi hehehe-red) permainan itu melatih kejujuran setiap pemain yang memainkan permainan tersebut, permainan tersebut melibatkan 2 orang yang berhadapan dan permainanya itu dimulai bareng-bareng terlebih dahulu lalu kalau lawan sudah kehabisan bij(keci-red) dia harus berhenti sampai menunggu lawan yang selajutnya bermain, dipermaian ini kita dituntut untuk jujur terhadap lawan bermain, dan terus seperti itu.
contoh yang kedua permainan delikan(peta umpet-red) permainan ini melibatkan tidak hanya 2 orang, permainan ini harus melibatkan banyak orang yang ikut dipermainan ini karna kalau hanya 2 orang pasti tidak seru, cara permaian ini adalah kita semua berkumpul membuat sebuah lingkaran dan hom pim pa naa siapa yang kalah dia yang nantinya akan jadi/ yang akan jaga dan mencari temen-teman yang ngumpet sampai ketemu, yang jadi ini harus sigap dan harus cepat menebak siapa orang yang ia lihat agar dia nanti juga jadi/jaga(kalah-red) dan seterusnya. Dan sebagainya itu hanya contoh-contoh kecil saja, permaiannya masih lebih banyak lagi, kami ingin ganerasi berikutnya tidak melupakan semua permaiana-permaian tersebut dan mereka tidak meninggalkannya, intinya generasi berikutnya tau kalau ada permaian yang lebih seru dan alami.
Keingina kita ini semoga juga diimbangi dengan tindakan yang harus kita lakukan untuk mewujudkan keinginan kita ini......

Jumat, 05 Desember 2008

Sedikit tentang SAKI

Saki....


Awal Saki mulai ada, kami temen-temen yang ada di bantaran sungai yang terkenal di jogja yaitu sungai code yang sebelumnya sudah banyak mengadakan event2 sukses,yaa walaupun hanya acara 17an tapi acara seperti itu yang bikin jiwa muda mudi yang ada di kampung Ledok Tukangan ini tergugah untuk membuat sanggar atau sebuah wadah atau tempat untuk bebas berkarya, tentang seni budaya, tentang karya tulis, tentang ilmu pengetahuan, tentang permainan dan sebagainya.
Sanggar ini nantinya akan menjadi temapat untuk temen2 yang ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang apa yang mereka ingin tau.
Buat temen-temen yang pengen gabung bareng kita di Sangar Anak Kampung Indonesia kami sanggat senang, kami akan menerima baik buat temen-temen yang mw gabung...
eem segini dulu iah besok kita sambung lagi dengan cerita-cerita seru di SAKI......